"Aah! Iy-aah.. ayah.. ngghh, pelanin, ngghh!" Santa melenguh pecah, suaranya naik satu oktav setiap kali kepala kontol besar Perth menghantam titik prostatnya kencang. Tubuhnya tersentak-sentak ke depan karena genjotan dari belakang sana.
"Pelan? Emang lonte bakal puas kalau digenjot pelan? Lonte kayak kamu itu harus digenjot kasar sampe jebol. Apalagi kalau lontenya itu kamu," Perth menggeram rendah. Ia semakin membabi buta menggenjot lubang Santa yang menjepit kontolnya dengan rakus.
Tangan Perth menjambak surai halus Santa, menjambaknya ke belakang, Santa mendongak hingga leher kemerahan si cantik akibat cekikannya tadi terekspos.
Posisi doggy style—posisi favorit yang selalu membuat Santa bergetar nikmat. Perth maju, membawa wajah Santa ke samping dan melumat bibirnya dengan brutal.
Ciuman itu panas dan penuh tuntutan. Perth menghisap bibir bawah dan atas Santa bergantian, lidahnya menerobos masuk, mengacak-acak rongga mulut Santa hingga air liur mereka beradu dan menetes di dagu. Meski napas mereka mulai habis, tak ada yang mau melepas. Kekurangan oksigen justru membuat gairah mereka semakin naik.
"Ughhh, ayah! Mentok! Ud-daghh... uhh y-aah! Sakit tapi enak, ngghh!" Santa benar-benar dipacu habis-habisan oleh ayah pacarnya sendiri.
Di rumah ini, Pierre—kekasihnya, tidak ada, memberikan dua lelaki berbeda usia ini kebebasan untuk bercinta dengan cara yang paling kotor.
Santa tidak lagi peduli jika para pelayan di lantai bawah mendengar erangan kotornya yang menggema dari kamar utama.
"Aah! Anjing! Enak banget lubang kamu, Santa. Sempit, fuck! Kenapa bisa sesempit ini? Apa anak saya nggak pernah entot kamu?" Perth menggeram, pinggulnya menghantam bokong Santa hingga menimbulkan bunyi plak-plak yang kencang.
Santa menggeleng kuat-kuat, matanya terpejam erat saat otaknya hanya dipenuhi oleh rasa penuh di lubang belakangnya. "Ahhh.. nggaa.. ngga ayah.. Pierre nggak pernah.. lubang aku cuma dientot sama ayah.. cuma ayah yang ngerusak aku gini.. ahh.. iyaa, ayah!"
Perth menggeram puas mendengar pengakuan dari mulut kekasih anaknya sendiri.
"Bagus kalau gitu! Tapi kalau Pierre tau lubang pacarnya tiap hari saya obok-obok sampr bocor gini, dia bakal marah nggak, ya? Apa bakal ikut ngentotin kamu juga sama saya?" Perth tertawa rendah, pinggulnya tidak berhenti memompa brutal, menghujam prostat Santa tanpa ampun sampai suara hantaman kulit mereka bergema kotor.
"Ughh.. ngg-ahhh! J-jangan... jangan kasih tau Pierre, ayah.. ngghh! Mau ini.. ahh! Kontol ayah.. gede banget.. p-penuh banget..!" Otak Santa seperti sudah benar-benar kosong. Di kepalanya hanya ada rasa nikmat. Santa mencengkeram sprei sampai buku jarinya memutih, bokongnya ia nunggingkan lebih tinggi, sengaja mengundang hujaman yang lebih dalam dari kontol besar Perth.
"Bukannya bagus ya kalau saya kasih tau Pierre? Kamu jadi bisa dientot pakai dua kontol sekaligus. Pasti lubang kamu bakal puas tuh, digenjot dua kontol sekaligus."
Lubang Santa semakin menjepit kuat, berdenyut-denyut rakus. Ia benar-benar terangsang karena membayangkan bagaimana anak dan ayah itu memasukinya langsung sekaligus, mengentot lubangnya sampai hancur.
PLAK! PLAK! PLOK!
Suara kulit yang beradu keras bergema di ruangan itu. Perth memukul bokong Santa sampai kemerahan sebelum kembali menusuk telak ke titik terdalam.
"Ahhh! Sakit! Ayahhh.. anjinghh.. enakk banget! Terusss.. hantam terusss.. ahh!" Santa sudah kehilangan akal sehatnya. Ia tidak peduli lagi pada harga diri. Di bawah kuasa Perth, ia menjadi lonte yang siap menampung peju Perth.
Perth memutar tubuh Santa dengan kasar, mengubah posisi menjadi terlentang dengan kaki Santa diangkat tinggi ke bahunya. Ia meludah tepat di lubang Santa yang menganga lapar sebelum kembali memasukan kontolnya.
"Liat ini, Santa. Liat gimana kontol ayah mertuamu ini masuk ke lubang kamu. Fuck, sempit banget, mau bucat rasanya!" Perth menggeram, matanya menatap liar ke arah penyatuan mereka.